Kamis, 21 Okt 2021
  • Selamat datang di website SMPN 2 Tanjung Brebes # ESDUTA BISA # Selalu Jaga Kesehatan

Novel Senja Abu-abu Seri 3

Novel Senja Abu-abu Seri 3

Pagi  itu    adalah  hari  pertama  masuk  sekolah.  Kami segera bergegas dengan rutinitas kami masing-masing. Anak-anak berangkat sekolah, sementara aku dan suamiku pergi ke kantor masing-masing.

Sesampai di sekolah, aku mengikuti kegiatan rutin di sekolah yang diawali dengan upacara bendera hingga pukul 08.00 WIB. Beberapa temanku ramai membicarakan liburan mereka. Dari sekian cerita, ternyata hampir sama, mereka mengisi liburan dengan mengadakan reuni bersama teman-temannya dulu. Lucu- lucu ceritanya. Ada yang bertemu dengan mantannya saat reuni, berkunjung ke rumah saudara, atau piknik bersama keluarga.

Dari tempat dudukku aku hanya tersenyum mendengar cerita-cerita konyol mereka. Tak ada rasa canggung dari mereka ketika mereka menceritakan pengalaman ketemu sang mantan. Bahkan ada yang menceritakan chattingan dengan sang mantan hingga terjadi keributan dengan pasangannya. Yang lebih parah lagi ada beberapa teman yang bercerita kalau temannya juga ada yang bercerai akibat reuni. Dari reuni akhirnya berlanjut ke yang lain.

Dari pengalaman teman-temanku sekantor, aku hanya diam. Aku ambil kertas, kutulis beberapa kata dalam sebuah untaian puisi. Kutulis puisi yang kuberi judul “Tunggu”

Tunggu

 Hasrat berasa, hati berharap
Waktu begitu cepat berlalu
Hari berenang ke tepian
Berjuta rasa dalam dada

jarak
waktu
kesempatan
memisahkan
aku
dan
kau

Detik waktu terhitung
Lembar merah tersobek
Lama dalam kerinduan
Resah dalam kegelisahan.

 Selesai aku menulis, aku ke kamar mandi. HP-ku sengaja au letakkan di atas meja. Kulanjutkan menulis puisiku yang kedua.

Kebetulan hari itu aku ada jam kosong, iseng aku membuka WA. Ada japri masuk. Dari Ahmad.

“Assalamualaikum, sedang apa, Put? ” sapanya.

“Waalaikumsalam, istirahat, habis upacara, kebetulan hari ini aku kosong ndak ada jam mengajar.” Kujawab salamnya.

“Aku tahu kamu penasaran. Kamu mimpi aku kan?” tanyanya. Ahmad ternyata sudah mengetahui tempat kerjaku dari teman-temannku saat reuni itu.

Deg. Aku kaget. Bisa-bisanya dia menebak apa yang terjadi pada diriku. Memang dia seorang peramal atau apa, bahkan sampai mimpiku pun dia bisa menebaknya.

“Ya biasa saja,” jawabku menutupi hatiku.

“Jujurlah, berubahlah. Jangan keras hatimu. Maaf aku hanya mau tahu saja bagaimana perasaanmu padaku sebenarnya. Kemarin saat reuni kamu tidak datang. Sebenarnya reuni kemarin itu bertema “Pengakuan Hati Kala SMA.” Aku sudah menunggumu, sayang kamu tidak datang. Aku sangat kecewa waktu itu. Ternyata aku belum bisa menemukan jawabannya,” katanya kemudian. “Maaf, saya tidak bisa datang karena ada arisan keluarga di hari itu dan kebetulan rumahku ketempatan acara itu. Aku tidak mungkin absen karena itu acara keluarga yang sudah dirancang tahun sebelumnya.” Aku menjelaskan.

“Kamu kan bisa mengubah harinya,” lanjutnya.

Saat itu aku menunggumu, benar-benar menunggumu. “Ya,   ndak   mungkin   bisa   diubah,   itu   sudah kesepakatan keluarga besar kami. Lagian kan hanya reuni, masak iya aku mengorbankan arisan keluarga,” lanjutku.

“Ah, bilang saja kamu nggak mau bertemu denganku dan kamu takut mengakui isi hatimu,” lanjutnya.

“Ya, nggak begitu. Kok kamu masih egois ya,” jawabku.

“Hahaha. Kamu pernah mimpi aku ya, karena penasaran?” tanyanya.

Kali ini aku tidak mau berbohong lagi.

Aku jawab, “Ya, aku pernah bermimpi tentangmu.”

“Itu tandanya kamu memang pernah suka sama aku,” lanjutnya.

“Sekarang kamu tugas di daerah mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Lagi-lagi Ahmad paham kalau aku mengalihkan pembicaan kami. Dia tetap mengarahkan pembicaraan kami ke arah yang dia maksud.

Aku diam, memang aku pernah bermimpi tentangnya setelah beberpa tahun kami tidak bertemu. Tidak tahu mengapa aku bermimpi tentang dia. Tapi saat aku ditanya begitu, pertanyaan itu bagai menusuk hatiku. Perasaan yang sudah kupendam lama bahkan kukubur sangat dalam kini harus diurai satu per satu. Aku masih menganggap dia sangat egois dan dia masih berpikir kalau aku masih memiliki hati seperti baja yang sulit ditaklukkan perasaannya.

Aku menghela napas, sebelum kubalas WA-nya. Bismillah, kuniatkan hari ini aku akan mengakui bagaimana perasaanku dulu, biar terurai rasa hati yang kupendam puluhan tahun lalu yang kini diusikya kembali. Sudah begitu lama aku tak ingat dia, hingga WA grup sore itu mengingatkan kembali aku padanya.

“Ahmad, aku memang pernah suka sama kamu. Tapi sayang saat aku suka sama kamu, kamu sudah dengan teman yang lain. Aku mengalah, karena aku memang merasa bersalah setelah sekian lama kamu menungguku. Kupendam perasaanku itu, hingga aku menemukan pria yang sekarang menjadi suamiku,” WA- ku pada Ahmad.

Aku menghela napas panjang. Ada perasaan lega. Sangat lega. Tiba-tiba HP-ku berdering, membuyarkan diriku. Telepon dari Ahmad.

Aku angkat dengan grogi, takut, dan cemas. Aku keluar ruangan. Aku ke halaman belakang sekolah.

“Boleh ya aku meneleponmu, kamu nggak ngajar?” pintanya.

“Ya, ada apa?” Suaraku tergagap karena menyimpan beribu perasaan.

“Alhamdulillah, terima kasih. Hanya jawaban itu yang saya tunggu selama 17 tahun, Akhirnya aku tahu bagaimana perasaanmu padaku saat itu,” jawabnya.

Setelah sekian lama, akhirnya pengakuan itu aku dapatkan. Terima kasih atas pengakuanmu. Seandainya saat itu kamu mengakui perasaanmu padaku, aku akan berjuang merebut hati kedua orang tuamu. Akan aku perjuangkan cinta itu. Dulu ketika aku dengar kamu menikah, aku berontak, harusnya yang duduk di sebelahmu adalah aku, hanya aku. Karena aku yakin akulah yang benar-benar mencintai kamu. Aku kalut saat itu.” Ahmad menjelaskan.

“Biarlah cerita itu aku simpan. Dulu di saat usia kita masih sama-sama remaja, baru mengenal rasa cinta dengan seagala keangkuhan rasa. Aku sebenarnya yakin bahwa saat itu aku mencintai orang yang juga punya perasaan sama denganku. Saat aku kuliah dan menyelesaikan pendidikanku aku ingin mencarimu, tapi aku takut saat itu kamu tidak punya perasaan yang sama dan kamu menolakku lagi. Saat itu aku benar-benar putus asa. Bahkan rasa itu tumbuh subur hingga aku menikah yang pertama. Jika kamu mengakui bahwa saat itu kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku tentu ceritanya akan lain. Aku dulu juga pernah mendengar kabar bahwa mengapa kamu tidak mau mengungkapkan cintamu padaku karena takut dengan orang tuamu. Seharusnya kita bisa kuat mempertahankan rasa itu. Rasa yang sama yang tak pernah bersatu. Di tengah keterpurukanku saat itu, aku segera bangkit, aku genggam seluruh kekuatanku untuk membulatkan tekat bahwa aku harus berhasil tanpamu. Mungkin karena itulah aku bisa berhasil sampai saat ini. Tapi sudahlah, sekarang kita sudah punya cerita sendiri dan tidak harus menggoreskan cerita lama dalam kehidupan kita. Aku sudah berbahagia dengan istriku yang kedua ini.”

Begitu lama dia berbicara dan anehnya aku hanya menjadi pendengar setia dari setiap kata dan kalimat yang terlontar dari suaranya di seberang sana. Aku terhanyut dalam perasaanku yang membuatku semakin gelisah, sedih, dan seribu rasa yang bercampur. Tak terasa ada air mata turun perlahan di pipiku. Aku pakai kerudung kuningku untuk menyekanya. Menyeka luka yang sekian lama kubungkam, kini harus terurai lagi.

Aku juga tidak tahu bagaimana dia sekarang. Masih sama seperti dulu kah? Masih suka menyanyi kah seperti dulu? Entahlah, sudah lama aku tak pernah berhubungan dengan dia. Kini mengusikku lagi.

“Maafkan aku, yang dulu tidak pernah jujur mengakui perasaanku. Aku lemah karena ketakutanku pada orang tuaku. Maafkan aku, yang membuatmu begitu sakit memendam rasa padaku. Kalau kamu tahu betapa aku juga punya perasaan yang sama padamu. Benar- benar aku lemah mempertahankan rasa itu. Aku tidak mengulangi kesalahanku padamu pada suamiku yang sekarang. Ketika aku dan dia saling menyatakan rasa yang sama, aku mempertahankan rasa itu di depan orang tuaku. Aku tidak mau bernasib sama dengan rasaku padamu. Awalnya orang tuaku terutama ibuku tidak menyetujui calon suamiku karena ibu sudah menjodohkan aku dengan yang lain. Tapi aku mohon lupakanlah rasa itu. Saat ini kita sudah punya keluarga masing-masing dan berbahagia dengan pilihan kita. Allah belum menjodohkan kita. Simpan cerita itu hanya untuk kita. Mungkin rasa itu akan bersemi di anak cucu kita nanti. Semoga kita tetap bisa menjadi sahabat yang baik, saling mendoakan. InsyaAllah jika nanti ada kesempatan kita akan bertemu bersama keluarga kita dalam acara yang membahagiakan,” jawabku.

Mungkin dia mendengar kalimat- kalimatku itu dengan kondisi aku menangis. Dia mendiamkan aku dan menasihatiku agar tidak menangis. Tapi aku tak bisa, aku tetap menangis.

“Kamu sudah menikah lagi? Memang istrimu yang pertama ke mana?” tanyaku.

“Ceritanya sangat panjang. Mungkin cerita cintaku termasuk buram. Aku tidak beruntung dengan cinta. Setelah aku merasa cintaku bertepuk sebelah tangan padamu, aku berusaha mendekati beberapa wanita termasuk teman sekelas kita dulu. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa melupakanmu. Lalu saat aku kuliah aku mengenal seseorang lagi, tapi tidak seperti dirimu. Dalam hatiku saat itu yakin kalau kamu pun memiliki perasaan yang sama padaku. Aku masih menginginkanmu saat itu hingga aku tidak bisa mendekatkan hatiku pada wanita lain. Rasa itu tak bisa hilang meski saat itu aku dekat dengan wanita lain. Lagi-lagi rasa itu membelengguku hingga aku tak bisa memberikan hatiku pada yang lain. Akhirnya kau menikah tetapi istriku yang pertama mengkhianatiku. Dia berselingkuh dengan sopirku. Lagi- lagi aku gagal membina cintaku. Hampir tiga tahun aku hidup sendiri, lalu aku menemukan salah satu mahasiswaku yang mau menerima keadaanku dan akhirnya kami menikah dan dikaruniai 2 orang putra.

Kini aku telah menikah untuk yang kedua. Kini aku telah menikah untuk yang kedua.

Aku berhenti menulis, menghela napas. Begitu panjang liku-liku kehidupannya. Sejenak aku merasa bersalah atas semua yang menimpanya.

“Maafkan aku,” kataku sambil terisak.

“Menangis ya? Jangan menangis, nasi sudah menjadi bubur,” lanjutnya.

“Aku sekarang ditugaskan di Bandung, jika kamu ke Bandung silakan kamu kabari aku.”

“InsyaAllah, aku tidak janji.”

“Sebentar lagi lebaran, akan ada reuni, kamu datang nggak?” lanjutnya.

“Entahlah, insyaAllah jika ada kesempatan aku datang. Sampaikan salamku untuk istri dan anak- anakmu,” lanjutku menutup pembicaraan siang itu.

“Sudah dulu ya, maaf aku mengganggumu, dan sekali lagi aku berterima kasih padamu atas pengakuanmu,” lanjutnya.

Aku tak menyadari jika ternyata aku sudah menghabiskan waktu hampir satu setengah jam berbicara dengan Ahmad melalui telepon. Setelah sekian lama aku tak mendengar suaranya, kini aku mendengarnya kembali. Astaghfirullahalazim, apakah aku sudah mengkhianati suamiku dengan telepon semacam ini? Ya Allah ampuni aku.

Penulis : Puji Prasetyowati

admin

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR