Jumat, 22 Okt 2021
  • Selamat datang di website SMPN 2 Tanjung Brebes # ESDUTA BISA # Selalu Jaga Kesehatan

Novel Senja Abu-abu Seri 1

Novel Senja Abu-abu Seri 1

Aku  duduk  di  kursi  dapur  sambil  memandang  wajah suamiku yang mulai menua. Puluhan uban sudah menghias kepalanya yang dari hari ke hari rambut bagian depan mulai habis. Tangannya yang sungguh cekatan memotong ayam yang baru disembelihnya. Sambil mengupas bawang putih dan beberapa bumbu dapur lain aku membuat opor. Sore itu usai salat asar yang dihiasi gerimis kecil, kami berencana membuat opor ayam kampung.

“Buk, kita sembelih ayam ya,” begitu kata suamiku sore ini.

“Ya, silakan. Tapi ibuk ndak berani megangi lho, takut, terus nanti malah ibuk ndak mau makan karena ingat ayam itu,” kataku.

“Lho terus siapa yang megangi?” tanyanya kemudian.

“Minta tolong pakde depan saja,” kataku kemudian.

Benar dalam sepuluh menit, ayam terpotong. Air yang sudah aku rebus sudah mendidih. Siap untuk merontokkan bulu-bulu ayam. Tidak ada setengah jam suamiku sudah selesai membului ayam itu dan aku sudah menyiapkan bumbu yang diperlukan. Sambil menunggu suamiku selesai aku menyapu lantai, dan kedua anakku bergantian mengepel.

Setelah seluruh ayam terpotong, tugas berikutnya adalah bagianku. Kucuci potongan demi potongan ayam itu. Dalam kucuran air kecil yang mengalir dari kran, aku bersihkan daging ayam itu. Kukeluarkan lender-lendir yang menempel. Setelah benar-benar bersih, aku masukkan ke dalam baskom plastik berwarna biru. Kunyalakan kompor, bumbu segera kugoreng. Dua lembar daun salam, sepotong daun serai, kumasukkan. Hmmm, baunya luar biasa. Aku memasukkan seluruh daging ayam dan kucampur dengan bumbu itu. Setelah benar-benar tercampur, kudiamkan sekitar 5 menit, lalu kumasukkan segayung air ke dalam panci itu.

Sambil menunggu mendidih, aku mandi. Anak- anak segera menyusul mandi. Begitupun suamiku. Sambil menunggu azan magrib tiba, kami berada dalam kamar kami masing-masing. Anak-anak sibuk dengan HP-nya, sementara aku dan suamiku pun tidak jauh beda. Kami juga memegang HP, membuka-buka berita dengan sesekali mendiskusikan berita online tersebut. Sesekali aku keluar kamar untuk mengecek opor yang masih kumasak.

Azan magrib berkumandang, kami segera bergegas untuk berwudu dan melaksanakan jamaah salat magrib. Setelah itu kami tilawah bersama. Setengah tujuh aku menyiapkan hidangan makan malam. Anak- anakku minta ayam goreng. Kugoreng lima potong ayam yang aku masak tadi dan aku membuat sambal terasi. Sambil berdiskusi kami menikmati menu malam itu. Sungguh nikmat makan malam di 2 hari terakhir liburan kami.

Kami lanjutkan dengan jamaah salat isya. Setelah itu kami kembali tenggelam dalam kamar kami masing- masing. Aku dan suamiku membuka HP dan aku sendiri membuka grup WA SMA-ku. Ternyata sudah lebih dari 100 percakapan yang masuk. Suamiku keluar kamar karena ada tamu. Aku membuatkan minuman untuk suami dan tamu itu. Lalu aku masuk kembali ke kamar.

Aku buka satu demi satu. Aku senyum-senyum sendiri membaca tulisan-tulisan temanku. Ada beberapa pengakuan dari mereka yang lucu-lucu. Bahkan ada satu yang membuat terkejut, yaitu ada salah satu temanku yang mengaku tentang perasaannya padaku saat SMA dulu.

Aku penarasan, sengaja aku japri dia. Tanpa ada maksud apa pun, aku bertanya.

“Mengapa kamu mengungkapkan cerita hatimu di grup?” tanyaku lewat WA.

“Hehehe, daripada kusimpan biar kamu tahu.” Begitu balasannya.

“Aduh, aku jadi malu sama teman-teman,” lanjutku.

“Ya, biar kamu tahu bagaimana perasaanku dulu yang kupendam untukmu selama 3 tahun, hahaha,” lanjutnya.

“Hmmm, sudah   dulu   ya,   aku   mau   istirahat,” kataku.

Kumatikan HP karena aku sudah mengantuk. Suamiku masih berdiskusi dengan tamunya. Aku sendiri kemudian mengecek anak-anak yang sudah mulai mengantuk. Kutunggui putriku sampai dia tertidur. Aku masuk kamarku dan bergegas untuk tidur. Aku mengantuk tapi belum bisa tidur karena masih terngiang kalimat-kalimat temanku tadi. Mataku rasanya sudah amat lengket karena  mengantuk tetapi hatiku terbang entah ke mana. Sulit kujelaskan. Aku ingin menghapusnya, tapi ada rasa penasaran yang berkecamuk dalam hatiku. Sesaat kemudian suamiku masuk kamar. Dia menciumku sebagai kebiasannya sebelum kami tidur. Aku pun memeluknya kemudian kami berdua tertidur dan terlelap.

Penulis : Puji Prasetyowati

admin

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR